topik

2013
Sep
04
Memantapkan Peran Penyuluhan Sosial Melalui Pengembangan Program Magister Profesional Penyuluhan Sosial
Oleh: Prof Dr Sumardjo | Kategori: Topik | Topik: Penyuluhan | Komoditas:

Fakta menunjukkan bahwa partisipasi yang sinergis antara pihak-pihak terkait dalam pembangunan hanya akan terjadi apabila pihak-pihak yang terkait (stakeholders) dengan upaya peningkatan kualitas kehidupan tersebut masing-masing berdaya.  Di antara pihak terkait tampaknya yang masih relatif membutuhkan perhatian adalah kesiapan masyarakat dan kesiapan tenaga profesional pemberdayaan masyarakat.  Di sinilah dibutuhkan peran penyuluhan sebagai upaya fasilitasi pemberdayaan masyarakat.  Sesuai dengan filosofi penyuluhan, peran utama penyuluhan adalah untuk mencerdaskan kehidupan warga masyarakat dalam mewujudkan kualitas kehidupan (kesejahteraan) diri, keluarga, masyarakat dan lingkungannya, secara berkeadilan dan berkelanjutan. Melalui penyuluhan harapan terwujudnya masyarakat sejahtera yang berkeadilan dan berkelanjutan menjadi lebih dimungkinkan.

Tantangan yang lain adalah bagaimana meningkatkan kapasitas penyuluh PNS, Swadaya dan Swasta.  Selain itu juga perlu berupaya meningkatkat kerjasama di antara penyuluh tersebut yang masih belum terintegrasi antara Penyuluh PNS dan yang lainnya. Kendalanya belum jelasnya format pendanaan dan kelembagaan penyuluhan terutama di tingkat kabupaten.   Kasus Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, kendala tersebut terjadi akibat lemahnya komitmen Pemerintah Daerah terhadap pengembangan sistem penyuluhan, sehingga muncul aspirasi di antara para pihak yang terlibat dalam pengembangan penyuluhan, peningkatan kapasitas penyuluh ini ditarik ke Pusat.  Maksudnya rekrutmen, penempatan, pelatihan dan pengembangan human capital penyuluhan ini menjadi perhatian dan tanggungjawab pusat.

Seperti telah disampaikan sebelumnya, peran penyuluh sosial pada dasarnya adalah mencerdaskan kehidupan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan secara adil, beradab (damai) dan berkelanjutan.  Hal ini ditempuh melalui upaya pendidikan non formal atau pendidikan di luar sekolah secara terprogram dan berkelanjutan.  Hal-hal yang perlu menjadi komitmen penyuluh dalam menjalankan perannya antara lain : (1) mengembangkan kemandirian atau kapital manusia sasaran penyuluhan, (2) mengembangkan kapasitas/ keberdayaan masyarakat atau kapital sosial, (3) mengembangkan kelembagaan ekonomi kerakyatan, (4) mengembangkan hubungan kemitraan sinergis antar pihak terkait, dan (5) mengembangkan keterpaduan sistem kehidupan berbangsa yang berorientasi keberlanjutan secara ekonomis, ekologis dan sosial budaya secara berimbang.

1.Permasalahan dan Kebutuhan dalam Pengembangan Sistem Penyuluhan

Terkait dengan masalah ketenagaan penyuluhan, dihadapkan pada aspek kuantitas penyuluh, selain perlunya peningkatan kualitas penyuluh. Pelajaran berharga dari perkembangan penyuluhan di sektor pertanian, masalah yang muncul misalnya terjadi rekrutmen untuk formasi penyuluh namun penempatannya setelah diangkat bukan sebagai penyuluh. Hal ini terjadi karena lemahnya pemahaman dan komitmen Pimpinan Daerah (Kab/Kota) terhadap Sistem Penyuluhan. Adanya kesenjangan seperti ini juga menimbulkan pemikiran di kalangan pemerhati penyuluhan dan stakeholders penyuluhan dalam pengembangan kapasitas penyuluh dan rekrutmen penyuluh untuk ditarik lagi ke Pusat, setidaknya dalam masa transisi pengembangan sistem penyuluhan lebih lanjut.

Tantangan yang lain, selain masih dihadapkan pada keterbatasan dalam jumlah dan keterbatasan dalam kompetensi penyuluh ternyata dalam pengembangan penyuluhan adalah bagaimana mengembangan kerjasama di antara para penyuluh dan agen pembangunan lainnya, masih ada kecenderungan belum ada integrasi antar penyuluh : PNS, Swadaya dan Swasta antar penyuluh yang ada di masyarakat.  Di antara penyuluh PNS masih juga perlu dibenahi kondisi-kondisi berikut :  beban kerja yang tidak berimbang  antar penyuluh di masyarakat.  Dibutuhkan upaya pengembangan kompetensi penyuluh sebagai pemberdaya dan dalam paradigma partisipatif  agar pergeseran paradigm penyuluhan sosial benar-benar menuju pada visi pembangunan sosial yang sesungguhnya.

2.Kebutuhan Kompetensi Profesional bagi Pendidikan Penyuluh pada Level Spesialis 1

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang cukup lama dalam proses pengembangan penyuluhan yang partisipatif dalam pemberdayaan masyarakat, dapat di sebutkan beberapa kompetensi yang seyogyanya dikembangkan.  Kebutuhan kompetensi tersebut dapat dikelompokkan kedalam empat katagori : (1) kompetensi personal, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi andragogi, dan (4) kompetensi profesional.  Secara rinci dapat ditampilkan sebagai berikut :

(1)Kompetensi Personal meliputi

  1. Kepedulian terhadap pelayanan kebutuhan pihak lain
  2. Konsistensi pengembangan perilaku dan keteladanan
  3. Wawasan kedepan dan pengorganisasian belajar (aktualisasi diri)
  4. Komunikasi  Dialogis dan konvergen

(2)Kompetensi Sosial

  1. Analisis dan Pemetaan Sosial (need assessment dan social assessment)
  2. Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Jaringan Sosial
  3. Manajemen Kelompok dan Kepemimpinan
  4. Komunikasi dan Perubahan Sosial

(3)Kompetensi Andragogi

  1. Proses pembelajaran pendidikan non formal
  2. Prinsip, Etika dan Moral Penyuluhan Sosial
  3. Metoda dan Teknik Partisipatif Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat

(4)Kompetensi Profesional

  1. Pengembangan dan pengelolaan kemitraan
  2. Perencanaan dan Evaluasi program penyuluhan
  3. Pengembangan Kapital Manusia dan Kapital Social
  4. Pengelolaan Sistem Penyuluhan
  5. Pengembangan Sikap Kewirausahaan
  6. Sistem Isyarat Dini dan Intervensi Permasalahan Bencana Sosial dan Bencana Alam 

 

 

Anda harus Login untuk memberi Komentar

Daftar Komentar

Komentar tidak ditemukan

Terpopuler

2014
Okt
25
cara untuk membesarkan umbi bawang merah
Oleh: andi prasetyo

assalamualikum, saya andi mahasiswa igtf pekalongan 2014. petani di desa curug muncar kec.petungkriyono kab.pekalongan, ingin menanyakan pertanyaan dari petani tentang - Selengkapnya

Dilihat (34333) Komentar (16)
2013
Des
18
budidaya pertanian organik tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia
Oleh: IPB DIGITANI

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia. Untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran organik, - Selengkapnya

Dilihat (26508) Komentar (3)
2014
Jun
18
bagaimana cara penanggulangan hama burung pipit
Oleh: KIM Banjarjo Kota Tua

Kecamatan Padangan adalah salah satu Produsen Padi Terpenting diwilayah Kabupaten Bojonegoro bagian barat, luas sawah dikecamatan +/-  1000 hektar dan - Selengkapnya

Dilihat (19273) Komentar (3)
2015
Agu
12
penyakit kuning pada tanaman cabai
Oleh: Valiana Aprilleria

Assalamualaikum, Bapak/Ibu. Saya tim IGTF dari Magelang. Saya ingin bertanya mengenai penyebab penyakit kuning (daun kuning) pada tanaman cabai? Apakah - Selengkapnya

Dilihat (19070) Komentar (6)
2014
Sep
17
daun padi menguning dan mati
Oleh: kim deru maju

Salam hormat. perkenalkan kami dari kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Deru maju dari Desa Deru Kecamatan Sumberrejo Kab. Bojonegoro Jatim. beberapa - Selengkapnya

Dilihat (15771) Komentar (8)

Berita

2020
Nov
13
ternak indonesia dilirik malaysia, jepang dan australia
Oleh: IPB DIGITANI

BOGOR -- Budi Susilo Setiawan, SPt, owner Mitra Tani Farm (Peternakan Domba Terpadu) berkesempatan membagi - Selengkapnya

Dilihat (506) Komentar (0)
2020
Okt
17
press conference - hari pangan sedunia dan launching indonesia food system summit 2021
Oleh: IPB DIGITANI

SIARAN PERS-KRKP-TANI CENTER LPPM IPB Saatnya Sistem Pangan yang berdaulat, adil dan resilien!   Bogor, 15 Oktober 2020 Peringatan - Selengkapnya

Dilihat (511) Komentar (0)
2020
Okt
16
webinar observasi & handling sampel hama dan penyakit tumbuhan dari lapangan
Oleh: IPB DIGITANI

Dalam rangka kegiatan identifikasi hama dan penyakit pada 4 koomoditas yaitu sirih, pinang, jambu mente, - Selengkapnya

Dilihat (489) Komentar (0)