Berita

2020
Sep
03
Urgensi Kemitraan Multipihak Perberasan Nasional
Oleh: IPB DIGITANI | Kategori: Berita | Topik: Budidaya | Komoditas: Tanaman Pangan, Padi, Kedelai, Padi Organik

Bogor 3 September 2020  Koalisi Rakyat dan Kedaulatan Pangan (KRKP) mengadakan diskusi Urgensi Kemitraan Multipihak Perberasan Nasional. Diskusi dihadiri oleh Ibu Ruth Subondro Project Officer ICCO selaku moderator, Bapak Dr Ir Suwandi, M.Si Dirjen Tanaman Pangan Kementrian Pertanian RI, Bapak Ir Nono Rusono, M.Si KASUBDIT Bidang Pangan Kementrian PPN/Bappenas, dan Bapak David Ardhian Expert Board KRKP selaku narasumber. Diskusi juga dihadiri oleh Bapak Prof. DR. Drs. Mohamad Husein Sawit dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bapak Muhammad Nuruddin dari Aliansi Petani Indonesia, Bapak Suryo Wiyono dari Institut Pertanian Bogor, dan Bapak Vincentius Sariyo dari TaniHub selaku pembahas.

Diskusi dimulai pukul 14.00 WIB dibuka oleh Ibu Ruth Subondro yang menyatakan “beras merupakan komoditas yang penting. Komoditas yang menyangkut setidaknya 15jt keluarga petani dengan luas usaha tani sempit kurang dari 0,3 Hektar. Ekonomi perberasan juga menyangkut pada jutaan produsen pangan yang berpengaruh pada pembangunan perdesaan.

Dalam konteks komoditas beras tahun 2015 Indonesia mendukung platform tujuan pembangunan berkelanjutan yang salah satu jantungnya adalah sistem pangan berkelanjutan. Saat ini kita masih berjuang. Banyak tantangan untuk pemenuhan sistem pangan berkelanjutan yang salah satunya mensyaratkan aspek penting dari pembangunan berkelanjutan.

Pertanyaannya :

Seberapa penting platform perberasan nasional kedepan?

Bagaimana kebijakan multipihak itu diperlukan sebagai pelaku dalam platform tersebut?”

Bapak Dr. Ir Suwandi, M.Si menjelaskan “kondisi perberasan di Indonesia saat ini dimasa pandemi, petani tetap bisa produksi karena dalam alur sistem pangan [Produksi – Distribusi – Konsumsi/Akses Pangan] hanya bagian Ditribusi dan Konsumsi/Akses Pangan yang terganggu. Data BPS menyatakan stok beras di akhir bulan Juni 2020 Masa Tanam I mencapai 7,49jt ton dan target Masa Tanam II Juli-Desember 2020 sekitar 12,5-15 jt ton. Apabila target tersebut terpenuhi, maka akhir bulan Desember 2020 Indonesia Bekecukupan Beras.

Ada program-program yang dilakukan agar sustainable, lahan-lahan pertanian tetap terjaga kesuburannya.

1.Penggunaan Benih Unggul

2.Penggunaan pupuk 6 tepat dan pupuk organik

3.Penggunaan Pestisida ramah lingkungan

Aktivitas produksi budidaya dirancang ramah lingkungan karena kedepannya bisa diturunkan kepada anak cucu bangsa dimasa medatang.

Bapak Suwandi juga menjelaskan pola pihak kemitraan yang terjadi saat ini yaitu 1. Belum ada private sektor yang terjun ke budidaya padi. Hampir mayoritas padi ditanam oleh petani. 2. Petani tergabung kedalam kelompok tani kemudian para kelompok tani bergabung dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan tahun 2020 sudah bisa membentuk korporasi agar lebih kuat. Korporasi merupakan gabungan dari kelompok tani dan Gapoktan yang skala lahannya 5000-10000 HA. Bentuk kelembagaan bisa Koperasi, PT, CV, BUMDES, BUMP, dll yang penting merupakan kelembagaan ekonomi yang sah secara hukum dan menghimpun kebutuhan petani.

Dengan konsep korporasi petani tidak lagi menjual gabah. Tapi menjual beras. Sudah ada sekitar 130 titik dibanyak daerah yang di bina. Dari sisi managemen teknis korporasi, semua kebutuhan petani diurus oleh korporasi. Dengan korporasi input/output kebutuhan petani sudah terjamin.

Bapak Suwandi mengajak kepada petani, untuk sama-sama bergabung kelompok tani dan Gapoktan. Yang sudah bergabung mari tingkatkan ke korporasi, bersatu kita teguh!

Pesan penutup dari Bapak Suwandi adalah Cintai Produk Indonesia, Hargai Jerih Payah Petani, Indonesia Jaya!”

Diskusi dilanjutkan dengan penjelasan oleh Bapak Ir Nono Rusono, M.Si mengenai Kebijakan Kemitraan Multipihak dalam Upaya Membangun Sistem Pangan Nasional.

“Pemerintah merumuskan sasaran konsumen ada di dalam PERPRES 18/2020 tentang RPJMN 2020 PN 1: Penguatan Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang berkualitas dan Berkeadilan.

Program prioritas peningkatan ketersediaan akses dan kualitas konsumsi pangan.

1. Peningkatan kualitas konsumsi, keamanan fortifikasi dan biofortifikasi pangan

2. Peningkatan ketersediaan pangan hasil pertanian dan pangan hasil laut secara berkelanjutan

3. Peningkatan produktivitas, keberlanjutan SDM pertanian dan kepastian pasar

4. Peningkatan produktivitas, keberlanjutan sumberdaya Pertanian dan digitalisasi Pertanian

5. Peningkatan tata kelola sistem pangan nasional

 

Tujuan pembangunan berkelanjutan mengacu pada 5P yaitu People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership

 

Prinsip pembangunan berkelanjutan

1. Mengutamakan atau melokalkan

2. Inklusif: siapa saja bisa terlibat, memberdayakan, dan partisipatif

3. Integratif, holistik, berintegrasi pada hasil

4. Responsif terhadap gender

5. Bukan hanya bisnis assisual

6. Terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan

 

Perbaikan sistem pangan nasional perlu dilakukan secara terus-menerus dan ini yang dicoba dirumuskan di dalam RPJMN 2020-2024 tentang sistem pangan nasional

Ada 5 pilar :

1. Produksi domestik berkelanjutan dan ketersediaanuntuk mencukupi kebutuhan permintaan pangan berkualitas dan aman

2. Lingkungan kondusif untuk industri pangan lokal difasilitasi

3. Stabilitasi akses pangan untuk masyarakat yang kurang mampu

4. Penguatan korporasi petani dan efisiensi distribusi pangan

5. Bantuan pangan. Dengan kondisi sekarang ini menjadi fokus utama

 

Bapak Nono menyatakan usulan revitalisasi yaitu konsep ketahanan pangan regional

 

Diskusi dilanjutkan oleh penjelasan bapak David tentang Kemitraan multipihak perberasan nasional platform beras berkelanjutan.

 

Sektor pertanian khususnya sektor beras merupakan penyangga ketika bangsa kita menghadapi krisis seperti pandemi sekarang ini. Karena sektor ini penting dan penyelamat bagi bangsa maka harus di perhatikan apa yang perlu diperbaiki mau terus jadi bagian memperkuat sektor ini, terutama dalam sistem pangan. 

apabila melihat sistem pangan di Indonesia perlu adanya upaya berkolaborasi untuk memperkokoh ketahanan pangan kita terutama dalam sektor perberasan.

 

KRKP memandang sustainability dalam sektor perberasan sangat penting diperkuat terutama dalam produksi yang berkelanjutan. Kita harus memperhatikan isu yang berkaitan dengan keseimbangan aspek produksi dan aspek daya dukungnya (sosial dan lingkungan) namun yang dialami semakin lama daya dukung lingkungan semakin menurun oleh karena itu sebagai konsekuensi logis untuk upaya meningkatkan produksi isu-isu ini jadi perhatian di banyak negara termasuk Indonesia.

 

Beras itu sektor yang besar dikonsumsi setiap hari, sehingga apabila di kemudian hari sektor ini diperkuat maka sektor perberasan akan mampu mendukung sistem pangan lebih kuat dalam menghadapi guncangan guncangan krisis, memberikan keadilan, adaptif dengan situasi kedepannya, dan lebih resinens.

 

Sehingga KRKP menawarkan untuk mendorong platform beras berkelanjutan. Karena perlu adanya satu platform sehingga memandu kita dan para pihak untuk mendorong sektor perberasan jadi punya nilai lebih dalam konteks upaya mengembangkan produksi yang berkelanjutan, memberikan produksi yang berkualitas baik untuk kesehatan sekaligus dengan cara berproduksi yang memperhatikan aspek daya dukung lingkungan. Untuk menuju platform ini, KRKP memandang tidak dimulai dari nol. Karena berbagai inisiatif global sudah menuju ke arah sana. tantangan-tantangan yang berkaitan dengan mengatasi kelaparan, beradaptasi dengan iklim sekaligus jadi upaya-upaya untuk memperhatikan aspek kesehatan sudah dirintis oleh lembaga-lembaga seperti PBB dengan berbagai rujukan yang bisa membantu kita. Bagaimana kalau hal tersebut kita terapkan di sektor perberasan? Seperti contoh FAO yang sudah memilih agroekologi sebagai pendekatan. Sehingga ketahanan pangan dan perubahan iklim menjadi sustainable food system framework

Contoh berikutnya dari UNEP: menerapkan sustainable rice platform. di mana pendekatan multi pihak untuk mempromosikan pengelolaan sumber daya yang efisien, perdagangan yang berkelanjutan, produksi dan konsumsi dan rantai pasok perberasan global memberikan kontribusi untuk upaya mencakup kebutuhan pangan.

Isu pangan juga sudah diambil alih oleh PBB yang tahun depan akan menyelenggarakan Food System Summit 2021 yang diharapkan dapat mendorong kesadaran, komitmen dan aksi untuk transformasi sistem pangan global.

 

Menurut bapak David, tentu saja yang global belum tentu sesuai dengan kondisi di Indonesia akan tetapi setidaknya bisa menjadi titik awal kita yang ujungnya menjadi sustainable development goals.

 

Platform beras berkelanjutan ingin disampaikan kepada pemerintah, sektor swasta, petani, ngo agar mampu menjawab tantangan tadi, menyediakan prinsip dan rujukan bagi para pemangku kepentingan yang berkaitan dengan isu keadilan, kelestarian kesehatan yang prinsipnya bisa disepakati bersama di dalam platform ini. Menyediakan ruang dialog, kemitraan dan kolaborasi untuk mendukung sektor perberasan berkelanjutan. Membuka peluang perbaikan kebijakan dan tata kelola titik sebagai tahap untuk menuju fire and resilience system di Indonesia 

 

Bapak David berpendapat kita harus sering diskusi agar bisa mencapai sustainable food system karena menjadi bagian itu penting.

 

 

Lebih lanjut Bapak Prof Muhammad Husein membahas semua pihak harus berpikir dan melihat ke arah jangka panjang agar bisa sampai ke titik dimana kita memikirkan isu lingkungan tanpa itu kita tidak bisa moving. Dalam platform perberasan dibutuhkan leader agar bisa merangkum membawa semua resources yang ada ini dari lembaga yang kuat seperti Bappenas.

 

Bapak Nuruddin menambahkan “beberapa anggota kami sudah mengembangkan kawasan pertanian berkelanjutan atau agroekologi yaitu pertanian ramah lingkungan dukungan implementasi yang dijalankan di tingkat pemerintah daerah dapat dukungan dari pemerintah pusat, dan juga dibantu oleh NGO lokal maupun NGO internasional sehingga diharapkan  bisa mengakses pasar beras di luar yang selama ini ada konsep operasional di lapangan bisa dikategorikan menjadi kemitraan multipihak meski belum ada payung regulasinya.”

 

Lebih lanjut Bapak Nurrudin menambahkan “harapan kami ada semacam legal-formal yang bisa kami jadikan sebagai proses perubahan kebijakan di tingkat internasional yang kemudian berdampak pada kebijakan nasional dan daerah. Jika inisiatif lokal sudah bisa mengembangkan platform pangan sehat atau beras berkelanjutan maka akan diadopsi oleh Negara kita. Harapannya, tahun 2021 ada praktek baik yang dilakukan bersama-sama. Sehingga alat ukur ini bisa dijadikan tanggung jawab jadi praktek baik yang bisa ditunjukkan inilah sistem pangan nasional melalui platform bersama multipihak dimana masing-masing peran dari multipihak tersebut terlihat peranannya dan kontribusinya. Karena sudah ada pengalaman offtaker yang berubah dulunya beli putus jadi inkubator mau memberikan insentif apabila kualitas mutu beras yang diberikan oleh petani baik maka akan diberikan insentif dalam bentuk penguatan dia bisa memberikan informasi tentang titik pengendalian bahaya haccp mulai dari titik pasca panen sampai pasar perubahan tersebut baik untuk petani sehingga mampu bekerja di rantai nilai yang bisa memberikan insentif tidak hanya disisi kesejahteraan tapi juga lingkungan karena dia akan mempertahankan sustainable dalam aspek sosial dan lingkungannya juga.”

 

Pakar penyakit tanaman IPB, Suryo Wiyono menegaskan, dalam membangun platform beras berkelanjutan juga jangan sekadar berfokus pada beras dari padi sawah karena ada juga petani yang mengembangkan padi gogoh atau padi ladang yang dikelola secara berkelanjutan. “Ada bias pangan yaitu beras berarti sawah, padi berarti sawah, dan padi sawah terkait input, padi gogo belum diperhatikan, padahal itu juga masa depan pertanian, jika bicara isu keberlanjutan,” Kemudian, perlu juga membangun kompetensi petani, karena ujung dari produksi pangan adalah petani. Karenanya sangat penting untuk menghidupkan kembali sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dimana petani dapat meningkatkan kompetensi mereka dalam mengeloa tanaman mereka secara berkelanjutan. “Petani kompeten, petani merdeka, yang saat ini banyak melakukan inovasi, dan kreatif itu banyak yang merupakan petani warisan jaman dulu, dari sekolah lapang dimana mereka belajar berpikir kritis, merdeka dan inovatif. Sekolah lapang kalau mau menuju produksi pangan berkelanjutan harus dihidupkan kembali,”

 

Selanjutnya Bapak sariyo menjelaskan beberapa poin yaitu :

“1. Belum ada standarisasi bagaimana cara bercocok bercocok tanam, penggunaan pupuk, penggunaan bibit, GAP nya masih beragam dan tidak saling sharing best practice bagaimana cara kita melakukan efisiensi dalam bercocok tanam

2. Kalau ingin memperbaiki kita tidak bisa memperbaiki apa yang tidak kita ketahui. Kita tahu apa yang kita hadapi tapi kita tidak ada matriks yang bagus itu seperti apa apa bukan berbicara gimana bisa jual gabah dengan harga mahal tapi bagaimana kita bisa melakukan efisiensi dari sisi lainnya supaya efisiensi tersebut juga bisa berbalik ke petani

3. Market yang menjadi target kita sudah siap atau belum untuk menerima hasil dari inovasi terbaru contoh produk organik jadi ketika petani sudah merubah dan mengikuti pola organik misalnya akan tetapi customer nya belum siap maka itu bisa jadi bumerang tersendiri. edukasi yang disampaikan kepada customer dan petani harus seimbang dan harus ada alat ukurnya

4. Melalui forum ini saya harap pada bagian gap ada standarisasinya”

Penulis : Silma Hafifah, SP

 

Anda harus Login untuk memberi Komentar

Daftar Komentar

Komentar tidak ditemukan

Terpopuler

2014
Okt
25
cara untuk membesarkan umbi bawang merah
Oleh: andi prasetyo

assalamualikum, saya andi mahasiswa igtf pekalongan 2014. petani di desa curug muncar kec.petungkriyono kab.pekalongan, ingin menanyakan pertanyaan dari petani tentang - Selengkapnya

Dilihat (34025) Komentar (16)
2013
Des
18
budidaya pertanian organik tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia
Oleh: IPB DIGITANI

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia. Untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran organik, - Selengkapnya

Dilihat (26122) Komentar (3)
2014
Jun
18
bagaimana cara penanggulangan hama burung pipit
Oleh: KIM Banjarjo Kota Tua

Kecamatan Padangan adalah salah satu Produsen Padi Terpenting diwilayah Kabupaten Bojonegoro bagian barat, luas sawah dikecamatan +/-  1000 hektar dan - Selengkapnya

Dilihat (19041) Komentar (3)
2015
Agu
12
penyakit kuning pada tanaman cabai
Oleh: Valiana Aprilleria

Assalamualaikum, Bapak/Ibu. Saya tim IGTF dari Magelang. Saya ingin bertanya mengenai penyebab penyakit kuning (daun kuning) pada tanaman cabai? Apakah - Selengkapnya

Dilihat (18192) Komentar (6)
2014
Sep
17
daun padi menguning dan mati
Oleh: kim deru maju

Salam hormat. perkenalkan kami dari kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Deru maju dari Desa Deru Kecamatan Sumberrejo Kab. Bojonegoro Jatim. beberapa - Selengkapnya

Dilihat (14438) Komentar (8)

Berita

2020
Nov
13
ternak indonesia dilirik malaysia, jepang dan australia
Oleh: IPB DIGITANI

BOGOR -- Budi Susilo Setiawan, SPt, owner Mitra Tani Farm (Peternakan Domba Terpadu) berkesempatan membagi - Selengkapnya

Dilihat (429) Komentar (0)
2020
Okt
17
press conference - hari pangan sedunia dan launching indonesia food system summit 2021
Oleh: IPB DIGITANI

SIARAN PERS-KRKP-TANI CENTER LPPM IPB Saatnya Sistem Pangan yang berdaulat, adil dan resilien!   Bogor, 15 Oktober 2020 Peringatan - Selengkapnya

Dilihat (445) Komentar (0)
2020
Okt
16
webinar observasi & handling sampel hama dan penyakit tumbuhan dari lapangan
Oleh: IPB DIGITANI

Dalam rangka kegiatan identifikasi hama dan penyakit pada 4 koomoditas yaitu sirih, pinang, jambu mente, - Selengkapnya

Dilihat (423) Komentar (0)