Berita

2020
Jul
02
Bincang Bareng Klinik Tanaman IPB - Si Biang Kerok Penyebab Kuning Keriting: Cabai Mbok Sining Merana
Oleh: IPB DIGITANI | Kategori: Berita | Topik: Kesehatan Tanaman, Hama dan Penyakit | Komoditas: Tanaman Pangan, Padi, Kedelai, Padi Organik, Hortikultura, Hortikultura Buah, Semangka, Pepaya, Jambu Kristal, Manggis, Melon, Buah Naga, Jeruk, Hortikultura Sayur, Tanaman Obat, Tanaman Anggrek

BOGOR- Kamis 2 Juli 2020 dalam webinar Bincang Bareng yang diselenggarakan oleh Klinik Tanaman IPB dengan topik diskusi Cabai Jelang Musim Kemarau: Waspada Virus Kuning dan Daun Keriting mengundang Narasumber ahli kesehatan tanaman IPB yaitu Dr. Ir. Widodo MS dan Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M. Sc. Acara tersebut disiarkan secara langsung via zoom dan official youtube departemen Proteksi Tanaman- IPB University yang terbuka untuk petani/praktisi pertanian, PPL/POPT/Petugas lapang, dosen, mahasiswa, pengamat, penggiat pertanian dan masyarakat umum.

 

Di dunia, terdapat sekitar 65 virus yang diketahui menyerang tanaman cabai. Salah satunya Pepper yellow leaf curl virus (PepYLCV) dari golongan Bogomovirus atau Geminivirus yang menyebabkan penyakit kuning dan daun keriting pada cabai. Pada umumnya, serangan virus tersebut menyebabkan daun menguning, keriting, menggulung, dan melengkung dengan presentase kehilangan hasil bervariasi antara 30% hingga 100%. Penyakit tersebut dapat menyerang banyak jenis tanaman diantaranya cabai, tomat, terung, tembakau, kecubung, mentimun, buncis, kacang panjang, bahkan kedelai. Patogen PepYLCV bukan merupakan penyakit tular benih.

 

Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M. Sc mengungkapkan akhir tahun 1999 penyakit kuning di daerah Cugenang, Cianjur, Jawa Barat masih sangat sedikit. Kemudian pada tahun 2003 hampir seluruh pulau Jawa telah terpapar virus tersebut. Namun wilayah sentral cabai di Tegal dan Brebes justru terkena dampak belakangan. Beliau menduga, hal tersebut dikarenakan pengunaan varietas lokal yang di kembangkan oleh petani. Sementara itu, daerah lain yang terserang menggunakan varietas hibrida. Seiring perkembangan waktu varietas lokal pun ikut terinfeksi virus PepYLCV. Petani Sumatera yang terdampak pada tahun 2008 seolah menyalahkan petani Jawa yang terdampak terlebih dahulu. Selang beberapa tahun kemudian, berdasarkan pengamatan lapang tahun 2015 daerah timur meliputi Bali, Sumbawa, dan Bima juga di temukan penyakit yang sama. Kiriman sampel daerah Sulawesi, Maluku, dan Papua pun menunjukan hal positif adanya virus PepYLCV.

 

Ciri umum yang dimiliki virus tumbuhan yaitu berbentuk partikel asam nukleat yang diselubungi protein. Virus tanaman bersifat parasit obligat dengan artian partikel virus hanya dapat hidup atau bertahan dalam jaringan hidup saja. Hal tersebut yang mendasari adanya inang alternatif yang menjadi perantara hidup ketika inang utama tidak tersedia di alam. Inang alternatif dari PepYLCV banyak dari golongan gulma seperti babadotan, ciplukan, senggani dan lain sebagainya.

 

Gesekan antara tanaman sakit dengan tanaman sehat serta tangan atau alat pertanian yang terkontaminasi tanaman sakit juga dapat menularkan virus ke tanaman sehat. Penyebaran penyakit secara aktif dapat dilakukan oleh serangga kutu kebul dengan nama ilmiah Bemisia tabaci. Musim kemarau yang cukup panjang akan menyebabkan aktivitas makan serangga semakin tinggi. Hal tersebut tentunya dapat menularkan penyakit semakin cepat antara satu tanaman sakit ke tanaman lain yang sehat. Sama halnya, peningkatan suhu yang dapat mempercepat siklus hidup serangga. Perkembangbiakan serangga yang semakin cepat dapat menyebabkan ledakan populasi Bemisia tabaci yang menjadi vektor atau pembawa virus PepYLCV.

 

Dr. Ir. Widodo MS menyampaikan tips kecil mencegah virus tanaman cabai sebagai berikut:

1. Jangan sayang dan segan untuk memusnahkan individu tanaman bergejala berat dan tidak ada harapan. Jika telah ditemukan satu saja tanaman yang terserang sebaiknya langsung dimusnahkan dengan cara dikubur ataupun dibakar.

2. Proses perompesan/pewiwilan tunas samping dilakukan oleh tenaga kerja berbeda untuk tanaman bergejala dan belum bergejala.

3. Berdoa dan mencuci tangan dengan sabun sebelum masuk ke pertanaman

4. Jangan merokok ketika sedang bekerja di pertanaman. Bagi pekerja yang perokok, merokok ketika istirahat dan mencuci tangan dengan sabun sebeluum kembali ke pertanaman. Sejauh ini terdapat satu virus yang dapat hidup pada bahan tanaman yaitu Tobacco mosaic virus (TMV). Jadi dikhawtirkan pada tembakau rokok menggandung partikel virus tersebut.

 

Strategi pengendalian menurut beliau terbagi menjadi 3 bagian yaitu sebelum pindah tanam, masa penanaman, dan setelah panen. Sebelum pindah tanam dilakukan pemusnahan atau sanitasi lahan dari sisa- sisa tanaman yang sakit maupun gulma sebagai sumber virus serta penanaman bibit sehat. Pada masa penanaman dilakukan monitoring terhadap tanaman dan keberadaan vektor. Bila ditemukan tanaman sakit segera dilakukan pemusnahan. Setelah panen dilakukan pemusnahan tanaman sakit. Penguburan tanaman sakit yang terinfeksi virus menjadi pilihan yang baik, karena disamping menghilangkan sumber inokulum juga dapat menambah bahan organik tanah. Namun sangat tidak baik untuk patogen tular tanah, sehingga dianjurkan untuk dilakukan pembakaran. Pembakaran mungkin dapat memusnahkan tanaman yang terserang virus, namun panas dari pembakaran dapat membunuh mikrob baik di tanah, belum lagi polusi jika dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga pemilihan cara eradikasi harus didasari atas sifat dari masing-masing patogen dengan mempertimbangkan segala resiko. 

Penulis :

Lisa Bela Fitriani, SP

 

File Terkait:

Prof._Sri_Hendrastuti_-_Bincang_Klintan_Geminivirus_.pdf

Anda harus Login untuk memberi Komentar

Daftar Komentar

Komentar tidak ditemukan

Terpopuler

2014
Okt
25
cara untuk membesarkan umbi bawang merah
Oleh: andi prasetyo

assalamualikum, saya andi mahasiswa igtf pekalongan 2014. petani di desa curug muncar kec.petungkriyono kab.pekalongan, ingin menanyakan pertanyaan dari petani tentang - Selengkapnya

Dilihat (34025) Komentar (16)
2013
Des
18
budidaya pertanian organik tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia
Oleh: IPB DIGITANI

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia. Untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran organik, - Selengkapnya

Dilihat (26122) Komentar (3)
2014
Jun
18
bagaimana cara penanggulangan hama burung pipit
Oleh: KIM Banjarjo Kota Tua

Kecamatan Padangan adalah salah satu Produsen Padi Terpenting diwilayah Kabupaten Bojonegoro bagian barat, luas sawah dikecamatan +/-  1000 hektar dan - Selengkapnya

Dilihat (19041) Komentar (3)
2015
Agu
12
penyakit kuning pada tanaman cabai
Oleh: Valiana Aprilleria

Assalamualaikum, Bapak/Ibu. Saya tim IGTF dari Magelang. Saya ingin bertanya mengenai penyebab penyakit kuning (daun kuning) pada tanaman cabai? Apakah - Selengkapnya

Dilihat (18192) Komentar (6)
2014
Sep
17
daun padi menguning dan mati
Oleh: kim deru maju

Salam hormat. perkenalkan kami dari kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Deru maju dari Desa Deru Kecamatan Sumberrejo Kab. Bojonegoro Jatim. beberapa - Selengkapnya

Dilihat (14438) Komentar (8)

Berita

2020
Nov
13
ternak indonesia dilirik malaysia, jepang dan australia
Oleh: IPB DIGITANI

BOGOR -- Budi Susilo Setiawan, SPt, owner Mitra Tani Farm (Peternakan Domba Terpadu) berkesempatan membagi - Selengkapnya

Dilihat (429) Komentar (0)
2020
Okt
17
press conference - hari pangan sedunia dan launching indonesia food system summit 2021
Oleh: IPB DIGITANI

SIARAN PERS-KRKP-TANI CENTER LPPM IPB Saatnya Sistem Pangan yang berdaulat, adil dan resilien!   Bogor, 15 Oktober 2020 Peringatan - Selengkapnya

Dilihat (445) Komentar (0)
2020
Okt
16
webinar observasi & handling sampel hama dan penyakit tumbuhan dari lapangan
Oleh: IPB DIGITANI

Dalam rangka kegiatan identifikasi hama dan penyakit pada 4 koomoditas yaitu sirih, pinang, jambu mente, - Selengkapnya

Dilihat (423) Komentar (0)